Catatan Free Latihan

Hidup Harus Tetap Berjalan




Thursday, 24 April 2014

Kehidupan terkadang tak dapat diduga. Senang dan sedih datang silih berganti diantara perjalanan waktu. Kerinduan kadang begitu menyayat hati. Namun, semangat tetap harus dijaga. Karena Ia tidak hidup sendiri, melainkan bersama keempat adiknya yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian.

Perempuan asli Gayo ini berusaha terlihat kuat walau kadang, sebenarnya, ia telah terlalu lelah. Berbagai persoalan hidup, mulai persoalan yang dihadapi adik-adiknya, hingga persoalan pribadi, kerap menyita perasaan dan pikiran.

Mailida Sulaiman, perempuan kelahiran 37 tahun silam ini memahami betul arti sebuah perjuangan. Bagaimana menjaga keluarga tanpa orangtua. Membesarkan adik-adik, menyekolahkannya hingga mencari rezeki agar dapur tetap berasap.

Semua cobaan ini dirasakan sejak orang-orang yang dicintainya berpulang ke Rahmatullah. Pertama, ibu tercinta. Berselang beberapa tahun, ayah tersayang. Tidak lama, abang terbaiknya juga meninggalkannya karena sebuah kecelakaan hebat.

Saat itu, dunia seperti gelap bagi Mailida. Seluruhnya gelap dengan berbagai tanggungjawab yang harus diembannya. Bukan sebuah pekerjaan mudah, apalagi dirinya seorang perempuan. Jika bukan dirinya, siapa lagi yang akan mengurus adik-adik.

“Tapi hidup tetap harus berjalan,” ungkapnya sekali waktu. Apapun tantangan yang datang, harus dihadapi dan dijalani. Karena seperti inilah kehidupan. Jika cengeng, masalah bisa jadi akan terus datang dan tak dapat di selesaikan.

Semua lakon hidup pun di jalani. Mulai berjualan, mengajar mengaji hingga membantu meringankan pekerjaan teman-teman. Terpenting, semua usaha harus tetap memberi rezeki yang halal.

Padahal, satu adik perempuannya terlahir cacat. Adik laki-lakinya juga cacat karena kecelakaan yang terjadi beberapa tahun silam saat pulang dari kebun bersama abang tertuanya yang meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.

Mailida faham jika ia harus menjalani kehidupan yang berat. Ia harus mampu menjadi kakak sekaligus seorang ibu dan kepala keluarga bagi adik-adiknya.

Namun begitu, kesibukannya mengurus dan membesarkan keempat orang adiknya, bukan berarti Mailida hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Justru, Ia tetap aktif di berbagai kegiatan bersama pemuda-pemuda lainnya. Bahkan, dirinya berani berbicara vokal dalam berbagai forum-forum resmi.

Tidak mengherankan, beberapa laki-laki dari berbagai organisasi di Takengon, saat berjumpa dengannya sering berujar; “Kamu perempuan Gayo yang paling sering tampil di forum dan berani berbicara terbuka”.

Mailida sadar betul, tidak semua ucapan tadi positif. Karena, sering sekali ucapan tadi bernada sinis. Tapi itu bukan menjadi alasan untuk mundur. Lemahnya perempuan di Gayo menjadi pertimbangannya. Ia ingin perempuan-perempuan Gayo tampil dan menyuarakan pendapatnya dalam berbagai forum-forum diskusi. Perempuan Gayo berani terlibat dalam berbagai kegiatan positif, tidak hanya kaum laki-laki saja. Karena semua punya hak yang sama.

Menariknya, Mailida tidak hanya terlibat dalam satu organisasi. Berbagai kegiatan dari organisasi lainnya juga ia masuki untuk mendapatkan ilmu.

Bersama beberapa mahasiswi di kampus STAIN Gajah Putih dan Universitas Gajah Putih Takengon, Mailida mengikuti pelatihan menulis dan fotografer secara serius. Bahkan ia sering mengajak beberapa generasi muda untuk terlibat memberi semangat kepada mereka untuk tetap serius belajar sesuai proses dan tidak setengah-setengah.

“Kehidupan butuh proses dan tidak bisa di dapat secara instan,” kata Mailida kepada mahasiswi-mahasiswi itu.

Dari kegiatan-kegiatan positif itulah, akhirnya, pada April 2013 lalu, Mailida bersama perempuan-perempuan Gayo (termasuk mahasiswi) berani tampil dan memberi pelatihan menulis selama dua hari bagi para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Takengon, Aceh Tengah.  “Walau tidak sempurna, tapi kita sudah berusaha memberi yang terbaik,” ungkap Mailida.

Kehidupan memang harus tetap berjalan. Berbagai kegiatan itu secara tidak langsung telah memompa semangatnya untuk terus memberi yang terbaik. Bukan hanya bagi adik-adiknya, melainkan juga kepada perempuan-perempuan Gayo lainnya.

Diakui, secara manusiawi, Mailida kerap merasa gundah dan sedih. Apalagi ketika rasa rindu kepada ibu dan bapak, airmata sering terjatuh. Tapi sebaik mungkin semua kesedihan itu tidak ia tampakkan didepan adik-adiknya. Ia ingin semua adik-adiknya tetap semangat menjalani hidup dan terus belajar dengan baik. Karena, hidup harus tetap berjalan!***





1 comments:

  1. bermanfaat pak, sangat bermanfaat tulisannya. Dan hidup ini terlalu indah jika hanya disia-siakan.

    ReplyDelete

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved